Bukalapak Targetkan Jadi E-Commerce Pertama yang Cetak Keuntungan

bukalapak

ProRakyatOnLine,- Memasuki tahun ke-10 eksistensinya di dunia e-commerce, salah satu unicorn terbesar di tanah air, Bukalapak menargetkan tahun 2020 bisa menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih keuntungan. Hal itu dilandaskan dengan pencapaian performa bisnis yang baik dan modal yang cukup saat ini.

“Sebagai Unicorn Indonesia yang jumlah sahamnya masih dimiliki secara signifikan oleh investor domestik, Bukalapak ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih BEP atau bahkan keuntungan dalam waktu dekat,” kata Intan Wibisono, Head of Corporate Communications Bukalapak beberapa waktu lalu.

Saat ini, dia memaparkan Bukalapak memiliki lebih dari 5 juta Pelapak, lebih dari 70 juta pengguna aktif bulanan, serta lebih dari 2 juta transaksi per hari. Tak hanya itu saja, hingga semester 1 2019 ini, Bukalapak membukukan peningkatan yang menggembirakan jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2018. Laba kotor Bukalapak pada semester itu meningkat tiga kali lipat lebih besar. E-commerce itu juga telah berhasil mengurangi 50 persen kerugian dari EBITDA-nya delapan bulan terakhir.

Intan juga menarget menjadi perusahaan startup yang paling profesional dan berkelanjutan dengan strategi yang rasional yang sesuai dengan kebutuhan pasar, serta tetap tumbuh kuat bagaimanapun keadaan di luar sana.

“Selanjutnya, kami akan terus memberdayakan talenta, memperkuat permodalan dan pengelolaan keuangan, dan menjaga pertumbuhan perusahaan,” ujarnya.

Menghadapi persaingan antar e-commerce yang kemungkinan makin ketat di tahun depan, Intan menyatakan Bukalapak siap berkompetisi secara langsung, transparan, dan jujur. Bukalapak juga terus berfokus pada tujuannya yang terus tumbuh menciptakan dampak positif untuk Indonesia.

Untuk itu, menurutnya Bukalapak perlu menentukan arah selanjutnya dan melakukan penyelarasan secara internal untuk menerapkan strategi bisnis jangka panjang serta melakukan penataan yang diperlukan termasuk upgrade sistem, penerepan berbagai kebijakan dan prosedur baru, rekrutmen secara spesifik di berbagai level, restrukturisasi organisasi, serta fokus pada produk dan program yang relevan untuk masyarakat Indonesia.

“Kami menuntut diri sendiri untuk bisa bekerja lebih efisien, lebih produktif dan efektif. Tak lupa, kami juga selalu menyesuaikan kebutuhan pasar dan permintaan pengguna kami dengan teknologi dan fitur yang kami kembangkan,” ungkapnya.

Di tahun 2020 ini, Bukalapak memiliki beberapa program dan produk yang mendukung peningkatan inklusi keuangan sekaligus untuk menjawab kebutuhan masyarakat di era digital. Produk dan program tersebut seperti Mitra Bukalapak, BukaGlobal, BukaReksa, BukaEmas, BukaAsuransi, dan fitur-fitur lain yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sebagai perusahaan dagang-el, Bukalapak akan tetap menjadikan Mitra Bukalapak sebagai penggerak terdepan dalam transformasi teknologi lewat keberadaan warung-warung tradisional yang jumlahnya sekitar 6 juta warung. Intan menerangkan, berdasarkan riset CLSA pada September 2019 lalu menunjukkan terdapat 85 persen orang yang belum berbelanja orang dan sekitar 70 persen orang belum pernah melakukan transaksi secara online. Hasil riset tersebut menjadi fokus Bukalapak untuk terus mengakselerasi transformasi teknologi lebih menyeluruh.

Industri perdagangan elektronik atau e-commerce saat ini memang sedang tumbuh dengan pesat. Data terakhir Google, Bain dan Temasek, internet economy di Indonesia mencapai US$ 100 miliar pada tahun 2019, dan diperkirakan akan meningkat hingga US$ 300 miliar selama enam tahun ke depan. Sektor e-commerce merupakan salah satu pendorong pencapaian tersebut.

Sementara menurut Bisnis Insider, di tahun 2020, bisnis e-commerce tanah air dapat mencapai US$ 130 juta, terbesar ketiga dunia setelah China dan India.

-Redaksi-